June, 2007Archive

Jun 24

Judul di atas mungkin bisa dialih bahasakan menjadi kalimat yang mirip dengan salah satu judul film Indonesia, “Rindu Kami Pada MU.”

Bagaimana tidak, buat saya yang dalam pembuluh darahnya masih mengalir darah seorang pemuka agama.. yang semasa kecilnya pernah mengenyam pendidikan di pesantren, belajar membaca Al-Quran, belajar Bahasa Arab, membaca Hadits, belajar Fiqih, dan pelajaran lain yang bahkan sudah saya lupakan namanya.. yang pernah dapat rekomendasi dari ustadznya untuk dikirim ke Pesantren YAPI Bangil di Jawa Timur sana.. yang katanya anak Remaja Masjid SMU 17.. yang kata teman mentoringnya bagus membaca Al-Quran..(yang ini masih bisa diperdebatkan karena saya sendiri tidak percaya. Soalnya waktu di Masjid Salman saya hanya membaca Al-Quran seadanya. Apa mungkin teman saya hanya basa-basi? Atau mungkin standar untuk anak pesantren itu beda dengan anak-anak yang belum pernah belajar di pesantren?).. yang mata kuliah Pendidikan Agama dan Etika Islam-nya diberi nilai A. (Yang ini tidak perlu diperdebatkan lagi karena nilainya sudah terpampang jelas di Sostek ^_^ hehe.. sedikit nyombong)

Ternyata…

Sekarang hanya orang bodoh, yang sering lupa akan Allah… yang jauh dari Allah.

Yang seakan manusia baru yang sebelumnya belum pernah menginjakkan kaki ke dalam pesantren atau bahkan belum pernah belajar pendidikan agama sama sekali. Tidak ada tampang orang alim sama sekali.

Yang belakangan hanya beribadah seadanya.. Yang lupa akan dasar-dasar beragama dan beribadah.

Agama seakan hanya penghias KTP, KPSM, dan kartu-kartu atau formulir lainnya yang wajib diisi.

Ibadah seakan hanya kewajiban sambil lalu layaknya kuliah. Shalat ditunaikan hanya di saat ingat, namun tidak ada usaha untuk berusaha tidak lupa. Semuanya dilaksanakan tanpa niat yang benar-benar tulus demi mendapat ridho Allah SWT. Sudah sulit dibedakan, yang mana shalat shubuh (yang dari namanya saja sudah jelas harus ditunaikan saat shubuh) dan mana shalat Dhuha (shalat yang dapat dilaksanakan mulai matahari terbit sampai matahari berada setinggi satu tombak dari tanah). Pertanda bahwa shalat shubuhnya jarang tepat waktu. Sudah tak terhitung berapa kali menjamak shalat karena sering lupa… (yah gak banyak-banyak amat sih, tapi kalau untuk standar gw menjamak itu harusnya gak lebih dari 3x dalam seminggu. Si Ria pernah bilang, pantes aja gw shalatnya suka lama… ternyata emang suka dijamak.. hehehe.. ya nggak juga Ri. Kalau di PAU gw gak pernah jamak karena tidak mungkin lupa shalat kalau musholanya dekat. Kalau ada yang bilang lupa, itu sih memang sengaja sok lupa). Bisa dihitung jari, hanya berapa kali saya menyentuh Al-Quran dalam sebulan. Dan bahkan lebih parah lagi, saya tidak pernah menyentuh Hadits sejak berhenti dari pesantren. (maksud gw nyentuh tu membaca dengan serius, kalau cuma asal megang sih… kitab Bulughul Marom juga pernah gw pegang pas kuliah agama)

Ternyata…

Saya sudah lupa.. betapa dekatnya saya dulu dengan Allah. Saat saya masih kecil, masih sangat rajin berangkat ke pesantren. Tidak peduli dengan panasnya matahari, tak peduli dengan lelah, sakit kepala dan pusing yang kadang mendera sepulang sekolah.

Tapi belum terlambat. Selama dunia belum kiamat dan ruh masih di kandung badan, masih ada waktu untuk bertobat.

Haaah.. sok bijak mungkin.. tapi tak apalah, lagi insyaf nih gw… :)

Mungkin darah nenek gw lagi bergejolak dalam tubuh gw. Ngingetin supaya rajin-rajin beribadah, rajin-rajin belajar dan kuliah. Jangan suka gombalin anak gadis orang lagi.. hahaha… iya nggak lagi deh (tapi kalau cuma sekali-kali boleh lah ya.. sunshine :P.. hehehe..)

Yang ini kan “talk the talk” (walaupun teknisnya “write the words”)

Jadi sekarang tinggal “walk the walk”-nya, alias pembuktian dari kata-kata gw. Mudah-mudahan gak ada hamabatan ^_^ Insya Allah.. Amiiiieeen.. Eh yang baca, tolong di aminin juga dong…

oke, jadi mulai ntar shubuh shalatnya musti tepat waktu nih.. dah dulu ah mo tidur.

Jun 10

Oleh Fajar Herdian, Pers Mahasiswa ITB

Siapa yang tidak kenal ITB (Institut Teknologi Bandung)? Salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang bahkan jadi ikon pendidikan untuk Kota Bandung. Saking terkenalnya bahkan ada yang membuat pelesetannya, Institut Terkenal Banget. Tapi bagaimana dengan perguruan tinggi lain yang ada di Bandung? Kualitas mereka juga tidak kalah dibanding ITB. Sebut saja Universitas Parahiyangan, yang jurusan Teknik Arsitekturnya menduduki peringkat nomor satu di Indonesia. Nah, mau tahu lebih banyak soal perguruan tinggi Bandung lainnya? Lanjut aja bacanya!

S

ejak perguruan tinggi pertama di Bandung, Technische Hoogeschool (cikal bakal ITB), didirikan pada zaman Belanda, Bandung berkembang menjadi kota dengan pertambahan jumlah perguruan tinggi yang signifikan. Sampai dengan saat ini di Bandung telah berdiri tiga perguruan tinggi negeri (PTN) dan tidak kurang dari enam puluh perguruan tinggi swasta (PTS), politeknik dan akademi.

PTN yang ada di Bandung adalah ITB, Universitas Padjajaran (Unpad) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dua PTN pertama mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, mengingat sejarah panjang serta prestasi dan banyaknya jumlah alumni yang telah dihasilkan. Namun untuk UPI mungkin masih sedikit terasa asing karena baru mengalami perubahan nama. UPI dahulu dikenal sebagai IKIP Bandung. Pada tahun 1999 namanya diubah menjadi UPI melalui Keputusan Presiden RI Nomor 124 Tahun 1999.

Berbeda dengan PTN, PTS berjumlah jauh lebih banyak, sehingga banyak pula yang masih asing di telinga kita. Dari sekian banyak PTS yang ada di Bandung hanya beberapa yang masuk kategori favorit dan menjadi pilihan banyak lulusan sekolah menengah atas. Misalnya Universitas Katolik Parahiyangan (Unpar), Universitas Kristen Maranatha (Unika), Institut Teknologi Nasional (Itenas), Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom), Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STP Bandung, dahulu bernama NHI), Universitas Pasundan (Unpas), Universitas Widyatama dan Universitas Islam Bandung (Unisba). Adapun politeknik yang banyak diminati adalah Politeknik Manufaktur Bandung (Polman Bandung) dan Politeknik Negeri Bandung (Polban).

Selain banyak dalam hal kuantitas, ternyata perguruan-perguruan tinggi tersebut juga tidak kalah soal kualitas. Buktinya tiga program studi terbaik se-Indonesia dipegang oleh perguruan tinggi di Bandung. Program studi Teknik Arsitektur terbaik, seperti disebutkan di awal, dipegang oleh Universitas Katolik Parahiyangan. Sementara untuk program studi Teknik Industri dan Teknik Informatika terbaik dipegang oleh ITB.

Tapi itu belum semua. Selain memegang peringkat pertama, perguran tinggi lainnya juga masuk dalam daftar perguruan tinggi yang patut diperhitungkan. Misalnya untuk program studi Akuntansi, Unpad menempati urutan III, Unpar urutan X dan Unika urutan XXV. Untuk program studi Hukum, Unpad sekali lagi menempati urutan III, Unpar urutan VII dan Unisba urutan XX. Untuk program studi Ilmu Komunikasi, Unpad menempati urutan II dan Unisba urutan XV. Untuk program studi Kedokteran, Unpad masuk urutan IV dan Unika urutan XIV. Untuk program studi Manajemen, Unpad masuk urutan III dan Unpar urutan IX. Untuk program studi Sastra Inggris, Unpad menempati urutan IV, Unika urutan X dan UPI urutan XX.

Untuk program studi Teknik Arsitektur, Teknik Industri dan Teknik Informatika, bukan hanya peringkat pertamanya saja yang diisi oleh perguruan tinggi Bandung. Urutan III Arsitektur juga dipegang oleh ITB lalu urutan VI dan X Teknik Informatika dipegang oleh STT Telkom dan Unpar.

Sebagai kesimpulan, kualitas perguruan tinggi yang ada di Bandung boleh dibilang sangat bersaing secara nasional. Hal ini dibuktikan oleh beberapa perguruan tinggi asal Bandung yang masuk dalam peringkat program studi terbaik se-Indonesia. Bahkan untuk program studi tertentu beberapa PTS-nya menduduki peringkat di atas PTN Indonesia lainnya. Hal ini tentu menjelaskan bahwa kualitas PTS Bandung tidak kalah dibanding PTN.

Catatan:
Paparan peringkat program studi yang disebutkan dalam tulisan ini didasarkan pada hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) untuk jenjang sarjana (S1). Lebih lengkapnya dapat dibaca pada buku terbitan Tempo, Panduan Memilih Perguruan Tinggi 2006.

Sumber: website Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Panduan Memilih Perguruan Tinggi 2006.