February, 2007Archive

Feb 24

Sebagian kecil dari kebersamaan yang tersisa…
Alumni SMU Negeri 17 Makassar di Bandung

Minggu, 24 Februari 2007
eh, yang lain ko pada gak dateng ya?! 17agerz! di mana kalian?…

Fotonya sih banyak, tapi yg bisa gw tunjukin cuma segini. Yang ada gw-nya… hehehe…:)

- semua fotonya udah diperkecil jadi 25%.. soalnya ukuran satu fotonya bisa sampai 4 MB.
- klik gambarnya kalo mo liat versi yg lebih gede..

_semua_angkatan2
|> semua angkatan (sengaja di local equalization biar muka semua orang kelihatan)

Angkatan2004|> angkatan gw… ^^

Ntah_papa
|> gak jelas. ah, yg penting kan muka gw kelihatan.. :P

Semua_angkatan |> semua angkatan

Salah
|> eh, ada yang diam2 motret gw…
kayanya gw punya secret admirer deh :P
hahaha, cem betul aja kau Jar!!…

Teman-temanku, kawan-kawanku, sahabat-sahabatku
Tahun depan reunian lagi ya…

Satu…!! Tujuh..!! SEVENTEEN!!!

Feb 21

Oleh Fajar Herdian
Akhzan

Sejak terjadinya bencana tsunami di Aceh pada
penghujung tahun 2004, istilah Sistem Peringatan Dini atau Early Warning
System
menjadi marak dibicarakan. Namun apakah yang dimaksud EWS tersebut?
Berikut ulasannya.

 

 
 

M

 

enurut bahasa yang mudah dimengerti, sistem
peringatan dini adalah sistem yang menginformasikan kemungkinan terjadinya bahaya
sebelum bahaya tersebut terjadi. Termasuk sistem biologis yang dimiliki oleh
makhluk hidup maupun sistem hasil buatan manusia.

Yang termasuk
sistem biologis adalah rasa sakit dan rasa takut (yang umumnya menjadi bagian
dari insting) yang dimiliki makhluk hidup secara alamiah. Sementara yang
termasuk sistem buatan adalah sistem yang dirancang manusia untuk mengumpulkan
data-data terkait dan mengolahnya menjadi parameter kemungkinan terjadinya
bahaya. Sistem buatan manusia ada yang dibuat untuk tujuan sipil dan ada juga
yang khusus untuk tujuan militer. Dalam hal ini sistem peringatan dini untuk
tsunami termasuk untuk tujuan sipil. Begitu pula dengan alat pendeteksi asap,
alat pendeteksi gempa, dan lain sebagainya. Sementara alat peringatan dini
untuk militer antara lain adalah alat pendeteksi misil balistik, pendeteksi
serangan nuklir, alat peringatan antirudal pesawat tempur, dan lain sebagainya.

Sistem
peringatan dini untuk tsunami biasanya disingkat TWS alias Tsunami Warning System. Sesuai dengan namanya, TWS dibangun untuk
mendeteksi gejala-gejala alam yang berpotensi untuk mendatangkan bencana
tsunami sekaligus mencari lokasi pusat gempa yang menyebabkan tsunami tersebut.
Laporan yang diberikan oleh TWS ini bisa digunakan untuk memprediksi besar kerusakan
yang akan ditimbulkan dan daerah-daerah yang akan terkena dampak tsunami.

Sistem ini
terbagi menjadi dua komponen penting, yaitu jaringan sensor-sensor pendeteksi
tsunami dan infrastruktur komunikasi yang berguna untuk menyampaikan peringatan
dini. Peringatan dini tsunami menghendaki kewaspadaan dan evakuasi sebelum
tsunami datang. Laju informasi peringatan dini sangatlah penting mengingat
selang waktu antara gempa bumi sampai tsunami mencapai daratan cukup singkat.

Terdapat dua
jenis peringatan dini tsunami: peringatan dini internasional dan peringatan
dini regional. Keduanya bergantung pada kenyataan bahwa tsunami bergerak dengan
laju 500 – 1000 km/jam (sekitar 0,14-0,28 km/detik) di laut lepas, sementara
gempa bumi dapat terdeteksi dengan cepat melalui gelombang seismik yang
bergerak dengan laju rata-rata 14.400 km/jam atau sekitar 4 km/detik.
Dengan memperhatikan gelombang seismik yang muncul, dimungkinkan adanya
tenggang waktu untuk prakiraan tsunami sekaligus penyampaian peringatan ke
daerah yang terancam tsunami. Hanya saja, karena belum ada model yang jelas
yang dapat menghubungkan gempa bumi dan tsunami, peringatan oleh gelombang
seismik menjadi kurang dapat diandalkan. Metode yang lebih pasti adalah dengan
menggunakan alat pengamat dasar laut untuk melihat gelombang tsunami di laut
lepas dengan jarak sejauh mungkin dari garis pantai.

Desain dasar peringatan dini untuk tsunami.Desain_dasar_peringatan_dini_untuk_tsuna







Alat
pengamat dasar laut yang akan ditenggelamkan.
Alat_pengamat_dasar_laut_yang_akan_diten





» Penyampaian Peringatan

Penyampaian_peringatan_tsunami_di_jepangPenyampaian
peringatan tsunami di Jepang melalui televisi, September 2004.

Proses pendeteksian dan prakiraan bencana
tsunami hanyalah setengah dari proses TWS secara keseluruhan. Hal lain yang
tidak kalah penting dalam TWS adalah penyampaian peringatan kepada penduduk yang
daerahnya terancam tsunami. Hal ini dapat dilakukan melalui beragam jalur
telekomunikasi (seperti e-mail, fax, radio, telex, TV, dan lain sebagainya).
Dengan demikian pesan darurat dapat diterima oleh masyarakat, pemerintah, serta
badan-badan penanggulangan bencana.

22 WIB, Lokasi 2,42LU, 128,10 BT [347 km Timur Laut Labuha, Maluku Utara], Kedalaman 13 km. Berpotensi TSUNAMI [untuk diteruskan ke masyarakat] SMS Gempa BMG:
Magnitude 6,6 SR, 29 Nov 06, 08:32:22 WIB, Lokasi 2,42LU, 128,10 BT [347 km Timur Laut Labuha, Maluku Utara], Kedalaman 13 km. Berpotensi TSUNAMI [untuk diteruskan ke masyarakat]

SMS Gempa BMG:
Magnitude 6,6 SR, 29 Nov 06, 08:32:22 WIB,Lokasi 2,42LU, 128,10 BT [347 km Timur Laut Labuha, Maluku Utara],Kedalaman 13 km. Berpotensi TSUNAMI [untuk diteruskan ke masyarakat]

Penyampaian
peringatan tsunami melalui sms.

» Kelemahannya

Tak
ada sistem yang dapat melindungi manusia dari bencana tsunami yang terjadi
tiba-tiba. Oleh karena itu, s
ampai saat ini
peringatan dini tsunami belum pernah menyelamatkan seorang pun dari bencana
tsunami mendadak. Walaupun demikian, peringatan dini tsunami masih dapat
bekerja efektif jika jarak pusat gempa sangat jauh. Hal ini dapat memberikan
kesempatan bagi para penduduk untuk melakukan evakuasi.


Foto_satelit_pantai_utara_banda_aceh_seb_1

Foto satelit Pantai utara Banda Aceh sebelum dan
sesudah tsunami. Tanggal 23 Juni 2004 (atas) dan 28 Desember 2004 (bawah).

 

Sistem Peringatan Dini merupakan mata
rantai yang spesifik (hubungan yang kritis) antara tindakan-tindakan dalam
kesiapsiagaan dengan kegiatan tanggap darurat. Ada 2 (dua) faktor yang berperan
dalam kerangka Sistem Peringatan Dini yaitu pihak Pengambil Keputusan dan
Masyarakat.

Di pihak masyarakat ada tiga unsur yang
menentukan bagaimana masyarakat bereaksi terhadap sistem peringatan dini.
Unsur-unsur tersebut terdiri dari pengetahuan, sikap, dan perilaku.

Selain faktor masyarakat, faktor lain yang
berperan dalam kerangka kerja Sistem Peringatan Dini adalah pihak Pengambil
Keputusan. Di Indonesia melalui Kepres Nomor 111/2001 kita mengetahui bahwa
penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dikoordinasikan oleh Bakornas
PBP di tingkat Nasional, Satkorlak PBP di tingkat Provinsi dan Satlak PBP di
tingkat Kabupaten/Kota. Melalui keberadaan institusi ini dapat dibuat
kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan sistem peringatan dini terutama
hal-hal yang berkaitan dengan kerangka kerja sistem peringatan dini, misalnya
Protap, Juklak, dan Mekanisme Kerja.

Sumber:

Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Tsunami_warning_system)

Sony AK Knowledge Center (www.sony-ak.com). “Mengenal Sistem
Peringatan Dini (Early Warning System)” oleh Ario Sutomo.

BMG Badan Meteorologi dan Geofisika

Envirtech (http://www.envirtech.org/seafloor_observatory.htm)

GuardianUnlimited (http://www.guardian.co.uk/gall/0,8542,1380645,00.html)

 

Feb 03

Sebenarnya kami ini cowok baik2, kalo lagi jalan sendiri2. Tapi anehnya, kalau sudah bertemu dengan teman sebangsa, pasti gak jadi cowok baik lagi. Mungkin sedikit brengsek-lah. Saya mendefinisikan brengsek di sini bukan berarti suka mainin cewek ya! Kami ini orang Timur (Makassar) yang [sedikit] tau batas2 pergaulan dengan cewek, tapi malah sering kelewat batas kalau bergaulnya dengan sesama cowok. Berbeda dengan sebagian cowok2 [Indonesia bagian] Barat yang kelihatannya cinta damai (jarang tuh gw liat mereka masuk TV gara2 tawuran dan sejenisnya..), tapi nyantai aja melakukan kontak fisik dengan cewek di tempat umum (kontak fisik=pelukan, sok mesra, dll.. defisinikan sendiri aja lah).

Untuk saat ini yang saya maksud "kami" adalah empat pemuda yang terdiri dari seorang anak Tambang ITB 2005 (ini gw), dua orang anak Tambang ITB 2004, dan seorang anak Manajemen Trisakti 2004 yang lagi liburan di Bandung. Sebenarnya masih ada lagi anggota selain yang saya sebutkan tadi. Hanya saja mereka sedang sibuk dengan urusannya masing2, maklum anak ITB.

Waktu2 kosong di masa liburan kami diisi dengan kesibukan yang [terus terang aja] kurang berguna. Basecamp tempat kami ngumpul adalah kamar salah seorang dari Tambang 2004. Alasan tempat dy jadi basecamp: kamarnya luas, fasilitas lengkap (kompie, tv, kamar mandi dalam, alat2 makan lengkap, dispenser beserta isinya, dlsb), lokasi strategis (bukan karena dekat dengan jalan raya, tapi karena dekat dengan kamar gw [yaiyalah, kami kan masih satu kosan]).

Hal2 yg kami lakukan di basecamp: main game, nonton tv (maaf, sinetron murahan & film India gak masuk hitungan), nonton vcd bajakan sewaan, makan siang/malam/tengah malam (kami biasa begadang), ngobrol dengan topik yang gak jelas dan sering berubah, dan godain cewek2 yg lewat di depan kosan. Oh iya, ada satu kebiasaan lagi [yang kami lakukan hanya karena terpaksa], yaitu membaca novel ‘Cewephobia’. Novel ini sangat tidak saya sarankan untuk dibaca. Menurut saya isinya sama sekali tidak mendidik, bahkan cenderung membodohi.
Kalau keluar dari markas, yg kami lakukan: ke pusat perbelanjaan lalu cuci mata dengan barang2 yg gak sanggup kami beli, makan makanan yang paling murah d resto (yg penting kan suasananya enak :P), main bilyard (klo buat gw c bukan ‘main bilyar’, tapi ‘belajar bilyard’), jalan2 di Dago (rekor kami: BIP-Plaza Dago), ‘mengkritisi’ orang2 yg kami lihat [dengan kritik yang kurang membangun], tebar pesona di depan cewek2 (hahaha… gayana jie), dan ikut konser gratis. Yg terakhir ini gw gk ikutan, dimana ada gratisan, disitu banyak masalah. Mending menjauhi masalah di tanah orang (kalo dapat masalah di negeri orang, visa gw bisa dicabut dan terpaksa pulang tanpa gelar sarjana). Lagian kata temen gw, waktu itu banyak keluar kata2 ‘mutiara’ dari arah penonton. Terus temen gw yg satu lagi bilang dy hampir mati karena sesak (entah hiperbola apa enggak, gw gk tau).

Kembali ke laptop. Waktu jalan2 di BIP kami melihat banyak godaan duniawi. Barang2 mewah dan mahal dipajang begitu saja, seakan2 semua orang bisa memilikinya dengan mudah. Untung aja kami ini perantau bokek. Jadi gak mungkin membuat bangkrut keluarga dengan membeli barang dari antek2 kapitalis itu. Dan lebih nggak mungkin lagi buat macarin cewek. Uang bulanan cuma cukup buat satu kepala, klo nambah satu tanggungan lagi kami bisa2 gak kuliah. Jadi wajar aja kalo kami kurang minat buat nyari pacar di Bandung. Buat kami, bisa melihat doi dari jauh aja udah cukup. Bisa ngajakin ngobrol apalagi. Bukannya cinta tak harus memiliki? hehehe.. Ya enggaklah ya.. Itu kan cuma pembelaan dari para pecundang. Btw, ini jg berkaitan dengan kegiatan kami godain cewek yang lewat depan kosan. Ini benar2 tindakan yg menantang maut. Masih untung klo tu cewek cuma manggil bodyguard-nya buat ngasih kami pelajaran. Tapi gimana kalo tu cewek senang kami godain, trus jadi jatuh hati sama kami. Hahaha.. mimpi kali ye.. (Iya, mudah2an mmg cuma mimpi. GW SERIUS!).

… ntar gw sambung lagi
nakana orang bugis: to be continued…>>>